Liga Super sudah bergulir 4 hari yang lalu. Tapi, setelah saya mengamati beberapa situs bola papan atas nasional, terlihat pemberitaannya adem ayem saja. Berita-berita pertandingan pembukaan liga super masih kalah pamor dibanding berita-berita yang masih berlabel gosip!

Berita gosip Cristian Ronaldo yang tarik ulur bakal pindah ke Real Madrid, setia ditongkrongi oleh wartawan bola nasional. Berita gosip Andrei Arshavin yang juga terkesan ogah-ogahan pindah ke klub besar Barcelona, Arsenal dan lain-lain, juga ditongkrongi oleh pembaca maupun penikmat sepakbola Indonesia. Begitu juga dengan berita-berita gosip lainnya seperti Ronaldinho dan yang lain.
Sedangkan berita pertandingan pembukaan liga super Persib Melawan Persela, dan yang lain, hanya mendapat porsi yang sedikit, paling banter 1-2 berita dari puluhan berita-berita tentang gosip bintang Internasional.

Melihat hal ini, saya jadi teringat akan jatuhnya popularitas IBL di Indonesia. Kompetisi bola basket tertinggi di Tanah air ini benar-benar sudah berkurang popularitasnya. 7 tahun lalu, bahkan tahun-tahun sebelumnya, ketika liga ini masih bernama Kobatama, pertandingan-pertandingan Kobatama selalu dipadati oleh pengunjung. Semakin populer, lalu terbentuklah liga baru bernama IBL yang diharapkan akan seprofesional NBA. Tapi nyatanya, 7 tahun berlalu, IBL malah makin melorot popularitasnya.

Kenapa IBL semakin tidak populer? Hal ini terkait juga dengan kurangnya dukungan berita oleh media cetak maupun online. Masuknya stasiun televisi, TV-One sebagai promotor setidaknya menjanjikan bangkitnya kembali IBL. Adanya 34 siaran langsung dari berbagai kota, diharapkan bisa menaikan jumlah penonton di setiap kota. Namun sayang, dukungan televisi ini tidak lantas spontan bisa mendatangkan penonton. Tanpa dukungan lainnya, terutama kualitas, juga mengurangi menghadirkan penonton ke arena pertandingan.

Karena itu, dukungan media cetak dan online mutlak diperlukan. Salah satu yang membuat kobatama begitu banyak mendatangkan penonton pada era 1990-an adalah dukungan media cetak dan pemberitaan di media elektronik.

Karena itu, jika Liga Super tidak ingin terpuruk seperti IBL, sudah selayaknya porsi berita Liga Super ditingkatkan, baik oleh media cetak maupun media online. Khusus media online, terutama Blog, masih sedikit blogger-blogger yang mengulas soal liga sepakbola di Indonesia. Karena itu, saya, Adi Wirasta, blogger sepakbola Indonesia, menghimbau anda, para blogger yang menyukai sepakbola, untuk meluangkan waktunya memuat minimal satu atau 2 tulisan per bulan, agar sepakbola kita tidak terpuruk kedalam lobang yang sama.