Banyak dari masyarakat kita yang tidak mengetahui bahan apa yang terkandung dalam makanan yang mereka makan. Padahal tidak semua makanan itu aman untuk dikonsumsi. Sebagai contoh adalah tempe dan tahu yang biasa kita konsumsi bahan bakunya adalah kedelai transgenik dari USA. Apakah transgenik itu? Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah direkayasa bentuk maupun kualitasnya melalui penyisipan gen atau DNA binatang, bakteri, mikroba, atau virus untuk tujuan tertentu. Misal, tomat yang disisipi gen ikan agar tahan beku atau kedelai yang disuntik gen bakteri dalam tanah. Transgenik menjadi alternatif agar hasil panen tahan dingin, melimpah, dan tak mempan hama. Bahkan, tanaman direkayasa agar mampu membunuh hama yang menyerang tumbuhan tersebut.

Makanan rekayasa transgenik memang sudah menjadi kontroversi sejak 30 tahunan silam. Yang jadi soal adanya rekayasa gen alias kode pembawa keturunan dari suatu makhluk ke makhluk lain bahkan yang berbeda spesies sekali pun. Para aktivis pembela konsumen dan lingkungan mengecam rekayasa seperti itu karena dinilai kebablasan dan melawan kodrat alam. Selain tentu saja tak aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Tak heran jika di sejumlah negara termasuk Indonesia, produk transgenik kerap menuai protes.

Di AS sendiri, teknologi transgenik meluas sejak tahun 90-an. Data menunjukkan, 63 persen produksi jagung AS adalah transgenik demikian juga dengan 83 persen produksi kapas. Porsi terbesar adalah kacang kedelai yang mencapai 89 persen produksi. Tapi, tak semua pengembangan transgenik di AS berujung sukses. Sebagian kalangan memandang produk transgenik tak aman karena proses pembentukannya tak alami dan bisa menyebabkan mutasi yang luas. Citra transgenik yang negatif ini berujung kegagalan bagi sebagian petani. Produk pepaya hijau asal Hawaii yang tahan virus ringspot ditolak negara-negara pengimpornya macam Kanada dan Jepang.

Lalu, bagaimana dengan produk pangan transgenik lain seperti jagung, kedelai, dan buah-buahan? Jangan harap makanan tersebut ada di bagian buah dan sayur-sayuran segar di supermarket AS. Hampir seluruh produk transgenik di AS tak dijual dalam bentuk segar. Hasil pertanian tersebut diproses menjadi makanan atau minuman ringan. Sirup jagung misalnya, digunakan sebagai pemanis banyak minuman dan makanan. Tak seperti di Eropa, AS tak mensyaratkan pemberian label bagi produk yang mengandung unsur transgenik. Jadi tanpa disadari, warga AS juga mengonsumsi produk transgenik.

Walaupun hingga kini belum ada bukti bahwa produk transgenik berbahaya bagi kesehatan. Produk transgenik terus menuai kontroversi. Pengawasan pemerintah AS pun tetap kendor. Deptan AS memang mengontrol penanaman tumbuhan transgenik namun tak bertanggung jawab atas produk yang dilepas ke pasar. Absennya peran FDA (sejenis BPOM di Indonesia) terhadap produk pangan transgenik menyebabkan kebanyakan jagung dan kacang kedelai segar transgenik kerap menjadi makanan hewan dan ternak.

Pertanian transgenik saat ini telah merambah 21 negara dengan total luas lahan mencapai 90 juta hektare. Dalam 10 tahun terakhir, tingkat pertumbuhan mencapai 47 kali lipat. Nilai bisnis produk transgenik kini menembus Rp 50 triliun. Monsanto menjadi perusahaan AS yang merajai pasar pertanian transgenik dunia.

Hasil penelitian produk makanan transgenik terhadap binatang:

1. Anak tikus yang makan tomat transgenik mengalami kelainan pada lambungnya. Anak tikus yang makan kedelai transgenik mempunyai angka kematian 4 kali tikus yang makan kedelai non transgenik. Hati, pankreas dan fungsi testis mengalami gangguan pada tikus dewasa yang makan kedelai transgenik.
2. Kacang polong transgenik menyebabkan reaksi alergi pada tikus dewasa.
3. Kentang transgenik yang dimakan anak tikus menyebabkan perkembangan yang abnormal.
4. Anak tikus yang makan jagung transgenik tumbuh lambat, mengalami masalah dengan fungsi hati dan ginjal.

Dari pernyataan diatas, dapat diketahui bahwa transgenik itu sangat berbahaya apabila dikonsumsi dalam jangka panjang. Jadi, sudah amankah makanan yang kita makan?